Tuesday, March 7, 2017

Post-Mortem Internetella

The internet is terrible. It makes your experiences external.

Your body didn't zumba as much as the spectacle on your Snapgram did. The food was prettier in pictures. The wine was bland. The skies were prettier through naked eyes. Filters, filters--nothing glitters. Your mother cheated and your father was an alcoholic. Their love letters from the 1980s were written in a drugged state. They were never in love. You were never meant to be born. Campus life was boring, you were just good at curating photos. Lunch at the garden sucked. Horse-riding was just ok. The view was amazing, but the likes were fantastic--people loved scenery photos. The book you wrote was good. Stop posting your poems as captions. Your life is incredible. Your feed is boring. Aden-filtered lies lies lies--real life has striking hues. Remove your account.

You have become a pageant, a parade, in 3x3 boxes. Pretty pretty pictures. Boom boom boomerangs. You're live, hi guys, this has been a long week and we're on our way to the Banks conce..., you're not living. Refrain from the gram.


Please.

Thursday, February 9, 2017

Semi-

Between twelve and daybreak,
amidst love and a heartache

It's beautiful, beautiful
in the dark
A pitiful, pitiful
monarch
Everyone's a woman,
and none's aware
Everything's romance
if you look nowhere

Between twelve and a daybreak,
amidst love and a heartbreak

We come off flakes
in semi-busy streets,
running around flashing
semi-lights,
semi-knowing
demi-gods

Tuesday, July 12, 2016

[SEGERA HADIR] Sebuah Buku Kumpulan Puisi

Tulisan pertama dari rangkaian cerita penulisan dan penerbitan buku kumpulan puisi.

Tahun  lalu, saya mulai menulis sejumlah puisi yang secara sengaja ditulis untuk dibukukan. Puisi-puisi tersebut tak ditulis sekeliling satu topik/objek khusus seperti kumpulan puisi biasanya, melainkan sebagai refleksi dari sejumlah hal terdekat yang terjadi di keseharian saya, yang mana saya rasa terjadi pula di keseharian orang-orang lain.

Sejumlah puisi mengartikulasikan pertanyaan-pertanyaan saya tentang spiritualitas dan Tuhan, tentang agama dan ritualnya--hal-hal yang selalu muncul, seringkali tanpa sengaja, dalam tulisan saya. Puisi-puisi lain berbicara tentang cinta, sementara lainnya tentang marah.

Beberapa puisi lahir dari pemahaman--yang seringkali separuh-separuh--tentang hal-hal yang tertulis di buku-buku dan dibahas secara sok tahu di ruang kelas.

Setiap puisi dalam buku ini adalah wujud perbincangan dengan diri sendiri, yang tak jarang diakhiri dengan pertengkaran--atau setidaknya bantah-berbantah--dengan suara-suara yang punya tempatnya masing-masing dalam pikiran.

Buku kumpulan puisi ini ditulis dari tahun 2015 hingga 2016, dan akan diterbitkan bersama sebuah penerbit independen.

Melalui blog dan Instagram (@KeziaAlaia), saya akan membagikan cerita-cerita hingga terbitnya buku kumpulan puisi saya. Selamat membaca!

Saturday, July 9, 2016

Nastar

Dimuat di PotsZine vol. 1.

“Lumayan,” kataku pada diriku sendiri, menjilat selai nastar yang lengket di tepi jari-jariku.

Ini kali pertama aku membuat kue nastar sendiri. Sebenarnya tiap Lebaran aku membuat kue nastar, namun tahun-tahun sebelumnya aku tak membuat selainya, aku beli selai yang sudah jadi, jadi tak dapat kubilang nastar itu aku yang buat. Tahun ini berbeda. Kupilih sendiri nanas yang warnanya paling kuning, ranum dan segar. Nanas kuparut sendiri dan kupanaskan dan kupanggang di oven--selai nanas ini adalah karyaku sendiri dan aku pantas menyebut nastar ini nastar buatanku.

Nastar tahun ini berbeda, lebih istimewa. Bukannya tanpa alasan: tahun ini aku membuatnya untuk tamu istimewa.

Kali pertama kubuat nastar, aku hanya bertugas membantu Nenek. Usiaku sembilan tahun, pertama kalinya aku bekerja di dapur, dan kerjaku mengoles selai pada loyang dan mengocok telur. Kami membuat dua loyang nastar. Kutanya pada Nenek, bolehkah kumakan nastar-nastar ini nanti ketika sudah jadi? Kata Nenek, tentu, tentu boleh. Aku gembira sekali, lalu ia bilang, yang satu loyang ini boleh, namun loyang satunya khusus kubuat untuk seseorang. Kupikir, tak apa, mungkin perutku tak muat diisi nastar begitu banyaknya. Kutanya siapa orang itu, Nenek hanya diam, lalu kutanya untuk apa kau memberinya nastar? Takkah lebih enak dimakan sendiri? Kata Nenek, aku perlu minta maaf pada orang itu. Kalau kau ingin minta maaf kepada seseorang, berikan ia setoples nastar, kata Nenek, lalu ia kembali memanggang adonan.

Nenek tentu berbohong, karena sore itu kulihat ia menghabiskan setoples nastar di kamarnya sendiri.

Lebaran tahun kemarin aku memberi setoples nastar pada Ibu, karena sebulan lamanya aku tak mengajaknya bicara dan aku perlu minta maaf pada Ibu. Ibu juga perlu minta maaf padaku, namun itu urusannya dan bukan urusanku. Mungkin caranya minta maaf bukan dengan memberikan nastar. Mungkin ia sudah minta maaf, namun aku tak mendengarnya, karena tak semua orang minta maaf dengan cara-cara yang mudah dimengerti.

Lebaran-lebaran sebelumnya aku memberi nastar pada saudara-saudaraku karena aku tak pernah mengunjungi rumah-rumah mereka pada hari-hari lain selain Lebaran, bukan karena aku sibuk namun aku rasa mereka tak patut kukunjungi. Namun aku perlu minta maaf, maka aku minta maaf dengan cara yang mereka mengerti.

Lebaran ini ada seseorang yang belum menerima nastarku, padahal aku banyak berbuat salah pada dirinya. Untuknya kusiapkan nastar yang selainya kubuat sendiri, dan kurasa ia pasti memaafkanku, karena sungguh nastarku kali ini enak.

Sambil menunggu nastar selesai dipanggang, dapur kubersihkan hingga rapi dan aku meregangkan tangan, berbaring di tempat tidur, sebelum akhirnya kuingat: aku belum merapikan ruang duduk.

Aku berlari turun ke ruang duduk dan membuang bungkus-bungkus permen yang tinggal di meja bekas tadi malam. Kuganti tirai yang menghalangi jendela dengan tirai bunga-bunga yang baru kucuci, lalu kusapu dan pel lantainya hingga mengkilap. Ruang dudukku sudah siap.

Oven berbunyi, mengingatkanku bahwa nastar telah siap. Aku mengangkat nastar dari oven dan menyusunnya di dalam toples dan aku senang karena aku juga telah siap.

Meja sudah rapi dan tirai sudah diganti dan lantai sudah mengkilap. Aku duduk, dengan kaki bersila di atas kursi dan mata memejam, mengunyah butir-butir nastar yang selainya kubuat  sendiri, karena seperti nenekku dulu, kini aku telah memberi maaf.

Friday, June 24, 2016

Blackout Poetry: Konstruksi Melalui Dekonstruksi

Karena manusia hanya melihat apa yang ingin dilihatnya.

Saturday, June 18, 2016

Tuan & Kucingnya

Seorang tuan pernah mati dan tak masuk surga karena ia tak pernah berguna untuk makhluk lain. Sepanjang hidupnya, tuan itu tinggal bersama pelayannya yang gemuk di rumah besar yang kini berhantu.

Di rumah besar itu, dulu, ketika Tuan masih hidup, konon tinggal seekor kucing jalanan yang karena nasib baiknya di tengah hujan badai suatu malam menemukan tempat berteduh di teras rumah besar itu. Kucing-kucing jalanan di kota itu dikenal kotor dan bau dan bulunya penuh kutu, begitu pula kucing jalanan itu. Tuan, yang mudah merasa kasihan, melihat kucing jalanan itu di teras rumahnya ketika mengintip badai dari jendela.

“Pelayan!”

“Ya, Tuan,” jawab seorang gemuk dengan pakaian pelayan. Tubuhnya berlari-lari kecil ke ruang tamu, yang karena gemuk tampak memantul-mantul ke kanan dan ke kiri.

“Bawa kucing itu masuk,” kata Tuan, mengibaskan tirai jendela untuk Pelayan mengintip. Di teras, kucing jalanan itu berbaring tak nyaman, bulunya berdiri kedinginan dan tubuhnya meringkuk malang.

Pelayan berdiri ragu.

“Tapi ia kotor, Tuan. Kau mau ia mengotori ubin marmermu dan buang air di karpet-karpet Turkimu dan tidur di bantal bulu angsamu?”

Tuan ikut ragu, namun hatinya begitu iba.

“Aku merasa kasihan pada kucing itu, pastikan ia aman tanpa mengotori ubin marmerku dan tak buang air di karpet-karpet Turkiku dan tak tidur di bantal bulu angsaku,” jawab Tuan.

Semakin hari, Tuan semakin renta. Setiap pagi sejak hari kucing jalanan itu berteduh di teras rumah besar di tengah hujan badai, Tuan bangun dari tidurnya memanggil Pelayan.

“Pelayan!”

“Ya, Tuan,”

“Sudah makankah kucing jalanan itu?”

“Sudah, Tuan”

“Apakah ia mengotori ubin marmerku atau buang air di karpet-karpet Turkiku atau tidur di bantal bulu angsaku?”

“Tidak sama sekali, Tuan,” jawab Pelayan.

Tentu saja Pelayan berbohong karena seekor kucing jalanan yang tinggal di sebuah rumah besar pasti akan mengotori ubin marmer dan buang air di karpet Turki dan tidur di bantal bulu angsa.

Setiap hari Tuan akan bertanya pertanyaan-pertanyaan yang sama pada Pelayan dan Pelayan akan menjawab jawaban-jawaban yang sama dan Tuan merasa tenang karena setidaknya dalam hidupnya ia pernah berbuat baik pada seekor kucing jalanan. Tuan selalu memuji Pelayan karena telah membantunya berbuat baik pada seekor kucing jalanan.

Tuan adalah seorang yang senang keluar rumah, berkumpul bersama tuan-tuan dan nyonya-nyonya lainnya. Setiap malam sepulangnya dari tempat tuan-tuan dan nyonya-nyonya berkumpul, ia menanggalkan jubahnya dan berbaring di atas tempat tidurnya hanya dibalut pakaian dalam, dan sebelum ia terlelap dipanggil lah Pelayan.

“Pelayan!”

“Ya, Tuan.”

“Sedang apa kucing itu?”

“Berlari-lari mengejar ekornya sendiri. Tuan. Ia hendak bersiap tidur, sama seperti kau,” jawab Pelayan.

“Kucing juga tidur di malam hari?” Tuan berandai-andai bagaimana kucing tidur. Meringkuk kah, atau terlentang?

“Tentu, Tuan, persis seperti kau.”

Sebelum ia tidur, tak pernah terlewat Tuan bertanya pertanyaan-pertanyaan yang sama dan Pelayan menjawab jawaban-jawaban yang sama dan Tuan merasa tenang karena setidaknya dalam hidupnya ia pernah berbuat baik pada seekor kucing jalanan.

Tuan sedang berkumpul dengan tuan-tuan dan nyonya-nyonya lainnya ketika ia bercerita soal kucing jalanan yang ditolongnya itu.

“Kucing jalanan itu bahagia sekali hidupnya sejak tinggal di rumahku,” kata Tuan. Kakinya mengetuk ubin dan tangannya menepuk dada.

“Senang sekali pasti, memelihara kucing di rumah!” kata seorang nyonya. Tangannya memegang secangkir teh pahit. “Mungkin kucingmu bisa bermain dengan kucingku Luisa kapan-kapan.”

“Terpuji sekali perbuatanmu memelihara seekor kucing” sahut seorang tuan dengan topi tinggi. “Namun tidak kotor kah rumahmu, ditinggali seekor kucing jalanan?”

Tuan-tuan dan nyonya-nyonya lain terkejut mendengar pertanyaan itu. Sepertinya hanya tuan topi tinggi yang sungguh menyimak cerita Tuan, dan yang lain tak sadar kucing yang diceritakan adalah seekor kucing jalanan. Tuan-tuan lain bergidik, jijik, dan nyonya-nyonya meletakkan kembali kue-kue kecil yang mereka makan ke atas piring karena tiba-tiba mereka tak selera makan. Nyonya yang tadi mengajak kucing Tuan bermain dengan kucing peliharaannya menarik kembali ucapannya. Kucing-kucing jalanan di kota dikenal kotor dan bau dan tubuhnya penuh kutu, tak terkecuali kucing jalanan Tuan.

“Tentu saja tidak kotor,” jawab Tuan. “Pelayanku yang mengurus semuanya.”

“Bagaimana caranya?” tanya seorang nyonya. “Seekor kucing jalanan yang tinggal di rumah tentu akan mengotori rumah itu.”

“Aku undang kalian semua ke rumahku besok untuk makan siang,” kata Tuan. “Lihat dengan matamu sendiri, rumahku tetap bersih.”

Tuan menyesal telah mengundang tuan-tuan dan nyonya-nyonya lain ke rumahnya, karena selama ini ia tak pernah benar-benar memperhatikan apakah kucing itu tak mengotori ubin marmer atau buang air di karpet-karpet Turki atau tidur di bantal bulu angsa di rumahnya. Sesampainya di rumah, ia memeriksa setiap jengkal ubir marmer dan setiap sudut karpet Turki dan setiap dari bantal bulu angsa miliknya, dan ia bernafas lega karena semuanya bersih. Ia kembali memuji Pelayan atas pekerjaannya.

“Pelayan!”

“Ya, Tuan.”

“Benar katamu, seluruh sudut ruangan ini bersih,” kata Tuan. Bibirnya yang tua tersenyum meninggalkan kerut-kerut permanen pada wajahnya yang menua.

Pelayan menepuk dada.

“Siapkan rumah ini untuk sebuah jamuan,” kata Tuan. “Aku mengundang tuan-tuan dan nyonya-nyonya berkumpul besok siang.”

Pelayan heran karena sepanjang hidup Tuan--dan selama itu lah ia bekerja di rumah besar Tuan--tak pernah ia mengundang tamu. Pasti ini jamuan yang istimewa, pikir Pelayan. Ia menyiapkan makanan-makanan paling enak dan anggur-anggur paling mahal untuk tamu-tamu Tuan.

Mobil-mobil berbaris di pelataran rumah besar itu keesokan harinya, lalu turun tuan-tuan dan nyonya-nyonya dengan sepatu-sepatu tinggi dan pakaian-pakaian menyilaukan. Siang yang sibuk bagi Pelayan. Ia mempersilakan tamu-tamu Tuan masuk, menarik kursi-kursi ruang jamuan untuk mereka duduk dan menghidangkan camilan selamat datang. Ia bergegas ke dapur, mengisi gelas-gelas kaca dengan minuman, dan menyuguhkannya sambil meminta para tamu menunggu Tuan turun dari kamarnya.

Tuan-tuan dan nyonya-nyonya menghabiskan camilan selamat datang dan Pelayan mengisi kembali gelas-gelas kaca dengan minuman, namun Tuan tak kunjung turun dari kamarnya. Para tamu mulai berbisik-bisik, apa kubilang! Pasti ia malu. Kuyakin, walau ruang jamuan ini bersih, pasti ruangan-ruangan lainnya kotor dan bau dan penuh kutu kucing jalanan.

Pelayan menunduk permisi, memantul-mantulkan tubuhnya yang gemuk menaiki tangga dan melewati lorong panjang menuju kamar Tuan. Ia mengetuk pintu sekali, tak ada jawaban. Dua kali, tak ada jawaban pula. 

“Permisi, Tuan,” panggilnya sambil mengetuk untuk yang ketiga kali.

Terdengar suara Tuan menjawab pelan, namun suara Tuan yang semakin tua tak terdengar menembus pintu kamar. Pelayan melawan tata krama dan membuka pintu.

Terkejut dilihatnya Tuan tergeletak tanpa daya di lantai kamarnya, sorot matanya melemah dan hidupnya memudar. Pelayan berteriak, dan tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang mendengarnya berlari menyusuri tangga, melewati lorong panjang dan mencari sumber suara.

Tuan-tuan dan nyonya-nyonya melihat Tuan tergeletak di lantai kamar berteriak pada satu sama lain sebelum menyadari tak bergunanya sikap seperti itu. Tuan topi tinggi dibantu tuan-tuan lain mengangkat tubuh Tuan. Nyonya-nyonya membuatkan teh dan mengusap keringatnya dan memijat-mijat tangannya, namun takdir telah ditentukan dan Tuan adalah orang yang tak suka menentang takdir.

Dengan sisa-sisa nafasnya, Tuan memanggil Pelayan.

“Kini kau dan teman-temanku sudah berkumpul untuk mengantarku pulang, namun ada satu yang kurang,” kata Tuan pada Pelayan.

Tuan-tuan dan nyonya-nyonya memuji-muji Tuan, benar katamu, rumahmu bersih sekali, dan maaf kemarin kami meragukanmu, karena tak ingin membebankan pikiran seorang tuan yang menatap ajal. Pelayan kembali melawan tata krama, meminta mereka diam.

“Apakah itu, Tuan?” tanya Pelayan pada tuannya.

“Bawakan kucingku kemari,” kata Tuan.

Pelayan terdiam dan keringatnya bercucuran. Kakinya bergetar dan tubuhnya yang bundar bergoyang ke kanan-kiri. Tuan-tuan dan nyonya-nyonya melihat ke arah Pelayan dan memelototinya dan menyikut lengannya yang gemuk agar ia bergegas membawa kucing jalanan itu kepada Tuan.

“Kucing yang mana, Tuan?” tanya Pelayan.

“Kucing jalanan itu, yang sepuluh tahun ini tinggal di rumahku dan kurawat hingga tua.”

*

Pada suatu malam sepuluh tahun lalu, ketika hujan badai menghantam kota, seorang tuan berkata pada pelayannya, “Aku merasa kasihan pada kucing itu, pastikan ia aman tanpa mengotori ubin marmerku dan buang air di karpet-karpet Turkiku dan tidur di bantal bulu angsaku.”

Lalu tuan itu kembali ke kamarnya, tidur di tengah hujan badai, karena seperti itu lah ia, kerjanya hanya bangun dan berkumpul dengan tuan-tuan dan nyonya-nyonya lain dan tidur mengenakan pakaian dalam, dan untuk hal-hal lain seperti menyapu rumah dan membuatkan sarapan dan membawa masuk seekor kucing jalanan ia menyuruh pelayannya. Seumur hidupnya, ia percaya pada pelayannya.

Malam itu Pelayan kembali tidur tanpa membawa masuk si kucing jalanan, karena ia taat pada tuannya, dan tuannya ingin kucing jalanan itu aman, dan semua orang dengan akal sehat tentu tahu bahwa seekor kucing jalanan akan lebih aman menggembel di trotoar daripada tinggal terpenjara di dalam rumah besar Tuan.

Wednesday, June 15, 2016

Memanggil Tuhan (dengan Benar)

Tak sampai seratus kali aku memanggil nama Tuhan dan ia sudah datang padaku. Seratus kali--angka itu tak banyak jika kau bayangkan jumlah orang yang memanggil Tuhan dalam sehari; milyaran, sudah dikurangi dengan orang-orang yang tak percaya Tuhan, yang jumlahnya tak kalah banyak.

“Kata siapa mereka tak memanggilku,” Tuhan setengah bertanya, seperti hendak mengacaukan pikiranku.

“Tentu orang-orang yang tak percaya padamu tidak memanggilmu, Tuhan,” jawabku. Aku mempersilakannya duduk di sofa beludru kuning namun ia memilih bersila di ubin hitam putih.

Tuhan menatapku dengan mata-matanya yang tak tampak. “Mereka juga memanggilku, dengan cara-cara mereka sendiri.”

Sombong, pikirku. Namun sesungguhnya kalimat itu tidak terdengar congkak sama sekali, apalagi jika kau ingat siapa yang berbicara.

Kakiku hampir saja membawaku ke dapur untuk menyiapkan cemilan dan kopi panas karena aku haus, dan mungkin Tuhan juga haus, namun baru sepersatu jengkal aku melangkah, jalanku terhenti. Teringatku pada kisah yang Ibu ceritakan tentang Maria dan Marta yang rumahnya disambangi Tuhan, seperti aku sekarang. Ketika Tuhan datang, Maria duduk di dekat kaki Tuhan, menemaninya, sementara Marta sibuk menyiapkan makan minum untuk mereka. Menurut Ibu, dalam kisah itu Tuhan tak memuji perbuatan Marta, karena menurut Tuhan Marta terlalu khawatir dan menyusahkan diri. Berdiri di depan televisi tak jauh dari tempat tuhan duduk, aku bingung: tak menyiapkan minum rasanya tak sopan, namun jika aku ke dapur menyiapkan minum, aku tak ubahnya Marta. Aku memilih haus dan kembali duduk bersama Tuhan. Aku bergerak mendekat ke kakinya, seperti yang dilakukan Maria.

“Untuk apa kau memanggilku?” Tanya Tuhan padaku. Matanya memperhatikan guci-guci Cina yang menghiasi pojok-pojok ruangan.

“Besok ada ujian di sekolahku,” jawabku, kedua mataku menatapku mata-matanya yang tak tampak. “Ujian akhir mata pelajaran Geografi.”

“Kau sudah coba belajar?”

Aku menggeleng. “Aku tak sebegitu pintar.”

“Coba menghafal.”

“Aku tak sebegitu pintar.”

“Kau tak perlu pintar untuk menghafal.”

“Aku tak sebegitu pintar.”

“Aku pun tak sebegitu pintar.”

“Tapi kau punya sihir.” Aku berusaha membujuknya.

Tuhan menghela nafas. “Ya sudah, Aku yang kerjakan ujian Geografimu esok.”

Aku lega sekali dan tidurku nyenyak dan esok paginya aku dapat mengerjakan ujian Geografi dengan lancar karena bukan aku yang mengerjakannya--Tuhan lah. Namun sore harinya ketika aku berbaring di sofa beludru kuning di ruang tamu, kudengar orang tuaku menerima telepon dari guruku dan katanya mereka dipanggil oleh Kepala Sekolah karena menurutnya aku mencontek. Pada ujian yang mana ia mencontek, kudengar ayahku berbisik pada ibuku dan ibuku bertanya pada gagang telepon, lalu suara dari gagang telepon menjawab dan ibuku berbisik pada ayahku, Geografi.

Ibuku kaget dan sedih karena ia pikir ia sudah mengajarkanku agama dengan baik sejak aku masih kecil dan ayahku marah karena ia pikir ia sudah menyuruh ibuku mengajarkanku agama dengan baik sejak aku masih kecil, dan itu membuatku bingung mencari apa hubungan antara pengajaran agama yang baik sejak kecil dengan tindakan mencontek. Ibuku menangis dan aku juga menangis karena ia menangis, juga karena ayunan rotan dari tangan ayah tepat mengenai tulang keringku.

Malam itu aku coba memanggil Tuhan karena aku kecewa sekali padanya. Pada yang ke-sembilan puluh sembilan aku berhenti, dan Tuhan mengambil wujud.

“Aku memintamu mengerjakan ujian Geografiku,” kataku. Tidak lupa kukenakan wajah anak manja yang marah pada tuhannya.

“Ya.”

“Kata guruku aku mencontek. Aku tidak mencontek, kan?”

“Kau tak mengerjakan ujian Geografimu sendiri.”

“Maka artinya aku mencontek?”

“Itu kau tahu.”

Aku geram karena Tuhan telah berbohong padaku. Padahal, kemarin ia setuju mengerjakan ujian Geografiku. Dari kecil Ibu mengajarkanku, ketika menemukan kesulitan, panggil nama Tuhan, satu kali saja dan kau bisa minta apapun padanya. Kemarin aku panggil Tuhan nyaris seratus kali karena aku takut ia tak dengar, karena kuingat kawan-kawanku dan kawan-kawan ibuku dan kawan-kawan ayahku di gereja jumlahnya ratusan, dan mereka semua setiap malam memanggil Tuhan, dan kemarin Tuhan datang padaku pada panggilan ke-sembilan sembilan.

Namun ia bohong padaku.

Aku lelah memarahi Tuhan. Kakiku beranjak ke dapur untuk mengambil dua gelas air, segelas untukku dan segelas untuk dirinya, karena tentu ia pun lelah mendengarku marah-marah.

“Terima kasih,” kata Tuhan, tangannya yang tak tampak menyambut gelas dari tanganku. Ia mengukupkan kedua tangannya yang tak tampak pada gelas kaca yang kubawakan padanya. “Air ini menyegarkan.”

“Kau tak berkata demikian pada Marta,” kataku. Puas rasanya mempersalahkan Tuhan yang baru saja berbohong kepadaku.

“Marta?” tanyanya.

“Marta, dari kisah Maria dan Marta,” kataku, mengingatkannya pada peristiwa yang bahkan tak kualami, seakan aku sungguh mengingatnya seperti aku mengingat wajah ibuku.

“Aku tak kenal Marta,” kata Tuhan.

Walau Tuhan terbukti bohong padaku, kali ini aku yakin Ia tak mengelabuiku karena bicaranya asing sekali ketika mengucap nama Marta, seakan-akan itu pertama kalinya Ia mendengar seseorang bernama Marta atau lebih lagi, pertama kalinya ia mendengar kata Marta. Gerak bibirnya kesulitan mengucap dan suaranya heran.

“Kata ibuku, Tuhan pernah menyambangi rumah Maria dan Marta.” Aku menjelaskan dan memastikan kebenaran cerita ibuku yang mulai kupertanyakan benar salahnya.

“Aduh,” keluh Tuhan. “Siapa namamu, tadi?”

“Cakra,” jawabku. “Namaku Cakra dan aku belum memperkenalkannya padamu tadi maupun kemarin saat aku memanggilmu pertama kalinya. Bukankah seharusnya  Tuhan mengenal umatnya? Ibuku bilang begitu.”

“Cakra,” Tuhan memanggilku. “Aku bukan Tuhan yang kau kisahkan tadi.”

Aku terkejut, tidak terima. “Jangan bermain-main denganku, Tuhan! Tentu kau Tuhan yang kukisahkan tadi! Kata ibuku Tuhan hanya ada satu.”

“Ibumu tak bilang begitu soal tetangga-tetanggamu yang tuhannya bukan tuhanmu.”

“Kata ibuku, mereka tak berdoa pada Tuhan,” sangkalku.

“Semua orang berdoa pada tuhan,” Tuhan balik menyangkal.

“Tuhan tetap hanya satu.”

Tuhan meneguk habis air dari gelas kaca yang kusuguhkan padanya, matanya yang tak tampak mengunci pandang pada guci-guci Cina, menghindari mataku. Seperti tidak ingin memberi perdebatan ini lebih banyak ruang untuk berlanjut, ia berterima kasih atas suguhan air putih lalu berbalik pergi.

**

Besok aku dan orang tuaku menghadap Kepala Sekolah karena menurutnya, dan kini, menurut kedua orang tuaku juga, aku mencontek. Lain kali, dan ini tak hanya berlaku bagiku, bagimu juga, ingat: berhati-hatilah memanggil tuhanmu, panggillah satu kali saja, seperti kata ibuku. Jangan kurang dan jangan lebih, karena kalau kau panggil tuhan sembilan puluh sembilan kali sepertiku, kau akan bertemu dengan tuhan yang berbohong, dan kau akan dikira mencontek, dan aku tak bisa membayangkan tuhan-tuhan seperti apa lagi yang akan kau temui jika kau memanggil nama Tuhan sembilan kali atau sembilan puluh kali atau sembilan ratus kali.